Share

Kamis, 28 April 2011

BULAN BUATAN PERADABAN MANUSIA MASA LALU



Dari sejumlah temuan baru setelah pendaratan ke bulan, terutama dari bahan pembentuknya, kemungkinan besar bulan itu diciptakan oleh mahluk di zaman prasejarah.



Begitu kita melepaskan diri dari teori evolusi terhadap belenggu kearifan kita, maka kita akan dapat melihat sejumlah besar keadaan yang tidak terbayangkan oleh kita, seperti misalnya dugaan bahwa bulan adalah ciptaan alien. Di bawah berikut ini adalah keadaan sebenarnya yang ingin kami beritahukan kepada Anda, yaitu membuka belenggu kearifan kita.





Planet Bulan?

Sejak Apollo mendarat di bulan pada tahun 1969, rasa misterius orang-orang terhadap bulan seakan-akan menurun. Dahulu, orang-orang berkumpul bersama di rumah saat hari raya pertengahan musim gugur, dan saat makan kue bulan, begitu menengadahkan kepala melihat rembulan di atas langit, dalam hati pasti merasa penasaran dan bingung. Penasarannya adalah dari mana sebenarnya bulan ini berasal? Dan bingung apa yang sebenarnya ada di atas bulan itu?



Sastrawan pada masa Dinasti Song yaitu Su Dong Po dalam Sui Tiao Ge Tou paling bisa hanya menyuarakan rasa penasaran dan kerinduan bangsa China terhadap rembulan: Kapan adanya terang bulan? Dengan arak bertanya pada langit cerah. Tidak tahu di istana langit atas sana, hari ini tahun berapakah saat ini?




Setelah antariksawan mendarat di bulan, orang-orang tahu bahwa permukaan bulan adalah sebidang padang pasir tandus, diselimuti debu angkasa tak terhingga banyaknya, kosong melompong. Tetapi, tahukan Anda? Setelah mendarat di bulan, beberapa temuan baru yang didapatkan, malah membuat ilmuwan semakin bingung terhadap asal-usul bulan.



Saat ini pemahaman ilmuwan terhadap bulan telah melampaui imajinasi sebelum pendaratan di bulan pada waktu itu, bukti–bukti temuan ini bisa membuat pemikiran baru orang-orang terbuka, mengenal dan merenungkan kembali asal mula diri sendiri dan kehidupan, serta alam semesta.



Studi Awal

Sejak zaman dahulu, astronom setiap bangsa di dunia telah mengadakan pengamatan yang panjang terhadap bulan. Penampakan bulan yang mengembang bulat dan menyusut berbentuk sabit, selain menjadi obyek inspirasi penyair, lebih menjadi pedoman kerja penanaman sawah petani; penanggalan tradisional Tionghoa merupakan penanggalan yang berdasarkan peredaran bulan, berperiode 28 hari sebagai patokan. Pada masa lampau, orang-orang menemukan sebuah fakta yang sangat menarik, bulan selalu mengarah pada kita dengan satu permukaan yang sama.





Kenapa? Melalui pengamatan yang panjang, orang-orang mendapati bulan bisa berputar sendiri, dan periode perputarannya sendiri persis sama dengan periode perputarannya mengelilingi bumi. Maka, biar di mana pun posisi bulan berada, bulan yang kita lihat dari atas bumi pasti merupakan satu permukaan yang sama, bayang-bayang di atas bulan selalu sejenis yang serupa.




Orang-orang memperhatikan, ukuran bulan kelihatannya sama besar dengan matahari. Matahari dan bulan dirasakan sama besarnya, namun pada kenyataannya apakah sama besarnya? Bahkan Alkitab sudah mengatakan ada penerang yang lebih besar dan lebih kecil. Bagaimana orang zaman dulu bisa mengetahui bulan lebih kecil dari matahari dan menuliskannya ke dalam Alkitab?





Orang dahulu acap kali berhasil mengamati suatu fenomena alam yang aneh, mereka menyebutnya dengan istilah “dewa anjing menelan matahari”, di saat itu akan ada benda langit berwarna hitam menutup total matahari, langit siang hari yang terang benderang tiba-tiba menjadi gelap gulita, dipenuhi dengan kelap-kelip bintang, yaitu “gerhana matahari total” yang dikenal oleh ilmuwan sekarang ini. Pada saat gerhana matahari total, benda langit hitam yang kita lihat adalah bulan, ukuran bulan persis bisa menutupi matahari, artinya jika dilihat dari bumi, bulan dan matahari sama besarnya.



Belakangan astronom mendapati, bahwa jarak matahari ke bumi persis 395 kali lipat jarak bulan ke bumi, sedangkan diameter matahari juga persis 395 kali diameter bulan, maka dilihat dari bumi, bulan persis sama besarnya dengan matahari. Diameter bumi adalah 12.756 km, diameter bulan 3.467 km, dan diameter bulan adalah 27%-nya diameter bumi.



Benda langit yang berputar mengelilingi planet, oleh ilmuwan disebut sebagai satelit. Sembilan planet besar pada sistem tata surya semuanya memiliki satelitnya sendiri. Di antara 9 planet besar tersebut ada beberapa planet yang sangat besar, seperti misalnya planet Jupiter, planet Saturnus dan lain sebagainya, mereka juga memiliki satelit yang mengedarinya, diameter satelit mereka sangat kecil dibanding planet itu sendiri.




Maka, satelit yang besarnya seperti bulan, sangat unik di dalam sistem tata surya kita. Data-data yang kebetulan ini menyebabkan beberapa astronom mulai memikirkan sebuah masalah, yaitu apakah bulan terbentuk secara alami?



Bebatuan Bulan yang Lebih Tua

Setelah pesawat antariksa Apollo mendarat di bulan pada tahun 1969, dan mengambil contoh batuan dari atas permukaan bulan, melakukan berbagai pengujian, didapatkan data yang bisa dijadikan bahan analisa lebih mendalam terhadap struktur bulan.



Pertama-tama dibuat analisa usia terhadap bebatuan yang terkumpul, didapati bahwa usia bebatuan bulan sangat kuno, ada sejumlah besar usia bebatuan itu melampaui bebatuan yang paling kuno di atas bumi. Menurut statistik 99% usia bebatuan bulan melampaui 90% bebatuan kuno di atas bumi, usia yang berhasil dihitung adalah sebelum 4,3-4,6 miliar tahun. Ketika membuat analisa terhadap tanah permukaan bulan, didapati masa mereka lebih kuno lagi, ada beberapa yang bahkan lebih awal 1 miliar tahun dibanding usia bebatuan bulan, melampaui lebih dari 5 miliar tahun. Saat ini waktu yang diprediksi ilmuwan atas terbentuknya sistem tata surya kurang lebih 5 miliar tahun lebih, mengapa bebatuan dan tanah di permukaan bulan sejarahnya bisa begitu panjang? Para ahli juga berpendapat bahwa sulit untuk menjelaskan.



Apakah berarti bulan adalah suatu "benda bekas" yang dimanfaatkan oleh Pencipta untuk menerangi bumi di malam hari?






Rongga pada Bulan



Pembuktian kabut bulan mungkin bisa menjelaskan struktur bulan. Astronot yang mendarat di bulan, ketika akan kembali ke bumi, meninggalkan permukaan bulan dengan mengendarai pesawat pendarat kembali ke kabin antariksa, setelah menyatu dengan pesawat antariksa, pesawat pendarat itu dibuang kembali ke permukaan bulan. Alat pengamat gempa yang dipasang pada jarak 72 km mencatat getaran pada permukaan bulan, getaran ini terus berlangsung lebih dari 15 menit, sama seperti martil memukul lonceng besar dengan sepenuh tenaga, getaran berlangsung dalam waktu yang lama baru hilang secara perlahan-lahan.



Ambil sebuah contoh misalnya, ketika kita memukul sebuah besi berongga dengan sekuat tenaga, akan mengeluarkan getaran ung… ung… yang terus bergema, sedangkan ketika memukul besi padat, getaran hanya akan bertahan singkat, akan berhenti pada waktu yang tidak lama. Gejala getaran yang terus berlangsung ini membuat ilmuwan mulai membayangkan apakah bulan itu berongga?



Ketika sebuah benda yang padat mendapat benturan, bisa mengeluarkan dua macam gelombang, satu adalah gelombang bujur (longitudinal), sedangkan satunya lagi adalah gelombang permukaan. “Gelombang bujur” adalah suatu gelombang tembusan, bisa menembus suatu benda, dari satu sisi permukaan melalui pusat benda dan disalurkan ke sisi lainnya.




Dan “gelombang permukaan”, sama seperti namanya, hanya bisa menyampaikan pada permukaan yang sangat dangkal. Namun, instrumen kabut bulan yang dipasang di atas bulan, melalui catatan waktu yang panjang, sama sekali tidak berhasil mencatat atau merekam gelombang bujur, semuanya berupa gelombang permukaan. Dari gejala yang menakjubkan ini, ilmuwan membuktikan bahwa bulan itu berongga!



Berlapiskan Unsur Logam

Tidak tahu, apakah Anda memperhatikan, bila mengamati bulan pasti akan terlihat potongan bayangan yang hitam-hitam, dan itulah area bayangan hitam yang disebutkan oleh ilmuwan. Saat antariksawan mengambil bor listrik akan membuat sebuah lubang di sana, mereka mendapati bahwa itu adalah pekerjaan yang melelahkan, mengebor dalam waktu yang sangat lama, namun hanya bisa membuat lubang sedikit saja.

Dan ini aneh rasanya, permukaan bulan bukankah semestinya terbentuk dari tanah dan bebatuan? Meskipun agak keras, namun tidak semestinya sampai tidak bisa masuk! Ketika dengan cermat dan teliti menganalisa struktur bentuk permukaan bulan pada area itu, ditemukan bahwa sebagian besar adalah suatu komposisi unsur logam yang sangat keras, yaitu unsur logam titanium yang digunakan untuk membuat pesawat antariksa. Pantas saja bisa demikian kerasnya. Maka, komposisi keseluruhan bulan dapat dikatakan bagaikan sebuah bola logam yang berongga.

Dalam lubang kawah bulan terdapat lava dalam jumlah besar, ini tidak aneh, yang aneh adalah lava-lava ini mengandung sejumlah besar unsur logam yang sangat langka di bumi, misalnya titanium, kromium, itrium dll. Logam-logam ini semuanya sangat keras, tahan panas, anti-oksidasi.

Ilmuwan menaksirkan, jika hendak melebur unsur-unsur logam ini, paling tidak suhunya harus di atas 2-3 ribu derajat, namun bulan adalah sebuah “planet dingin yang mati kesepian” di langit, paling tidak selama 3 miliar tahun tidak ada aktivitas gunung berapi.

Lalu bagaimana bulan bisa menghasilkan begitu banyak unsur logam yang membutuhkan suhu yang tinggi? Lagi pula, setelah ilmuwan menganalisa contoh tanah bulan seberat 380 kg yang dibawa oleh antariksawan, didapati ternyata mengandung besi dan titanium murni, ini adalah golongan tambang logam murni yang tidak akan ada secara alamiah. Ini menunjukkan bahwa logam-logam ini bukan terbentuk secara alamiah, melainkan hasil leburan manusia.

Penemuan ini sekaligus menjawab pertanyaan yang sejak lama membuat bingung para ahli. Jumlah lubang kawah di atas permukaan bulan sangat banyak, namun anehnya, lubang-lubang ini sangat dangkal.

Ilmuwan memperhitungkan, jika sebuah planet kecil yang berdiameter 16 km dengan kecepatan 50.000 km/jam terbentur dan hancur di atas bumi, maka akan mengakibatkan sebuah lubang besar dengan kedalaman berdiameter 4-5 kali lipatnya, artinya kedalamannya bisa mencapai 64-80 km. Dan sebuah lubang Kawah Gagrin yang merupakan kawah terdalam pada permukaan bulan, diameternya 300 km, namun kedalamannya hanya 6,4 km.

Bila hitungan ilmuwan tidak ada kesalahan, bebatuan yang mengakibatkan lubang ini jika bertabrakan di atas bumi, akan mengakibatkan lubang besar yang paling tidak kedalamannya 1.200 km!

Mengapa di atas bulan hanya bisa menimbulkan lubang bebatuan yang demikian dangkal? Satu-satunya penjelasan yang mungkin dapat diberikan adalah lapisan kulit luar bulan sangat keras. Jika demikian, komposisi logam keras di permukaan bulan yang ditemukan sebelumnya cukup untuk menjelaskan gejala semacam ini.

Bulan Diciptakan oleh Manusia Prasejarah?
Dua ilmuwan eks Uni Soviet dengan berani mengemukakan hipotesanya, menganggap bahwa bulan adalah sebuah kapal ruang angkasa yang telah mengalami perombakan. Dengan demikian, baru bisa secara sempurna menjelaskan dan menjawab berbagai macam gejala aneh yang ditinggalkan bulan untuk kita.

Hipotesa ini sangat berani, dan juga cukup banyak menimbulkan perdebatan, saat ini sebagian besar ilmuwan masih belum berani mengakui teori ini. Namun, kenyataan yang tidak diperdebatkan adalah, bahwa bulan memang benar-benar bukan terbentuk secara alami.

Bulan bagaikan mesin yang sangat akurat, setiap hari menghadap bumi dengan segi yang sama, juga persis sama besarnya dengan matahari kalau dilihat sepintas. Permukaan luar adalah sebuah lapisan paduan kulit logam yang tinggi tingkat kekerasannya, bisa menahan serangan bebatuan yang kepadatannya tinggi dalam jangka waktu yang panjang, dan tetap sempurna seperti bentuk semula. Jika merupakan sebuah benda langit alamiah, tidak seharusnya memiliki begitu banyak ciri khas yang dibuat manusia.

Diperkuat dengan bukti bulan seperti planet logam titanium berongga yang diciptakan manusia, maka tidak sulit untuk membayangkan bahwa bulan seyogianya dipasang dan diletakkan di atas oleh “manusia”, segala ciri khasnya sekaligus menunjukkan, bahwa bulan diciptkan manusia bumi pada waktu itu.

Jika demikian, sebelum adanya bulan, langit malam hari di atas bumi seharusnya sangat gelap gulita. Jika waktu itu di atas bumi ada manusia, lalu pada malam hari dan di atas permukaan bumi yang luas, mereka sangat sulit melakukan aktivitas apa pun, maka pantas saja dirancang sebuah cermin yaitu bulan, untuk ditempatkan di atas langit.

Maka wajah atau pemandangan bulan yang paling asli adalah sebuah bola metal, yang tingkat keterangan cahaya pada zaman dahulu pasti lebih terang dibanding sekarang, seiring dengan perjalanan waktu yang panjang, di bawah kondisi tidak adanya lapisan atmosfer, dan ditutupi sejumlah besar bebatuan kosmos serta debu sehingga menjadi seperti sekarang ini. Dan bila saat ini kita menganalisa permukaan bebatuan dan tanah bulan, tentu saja mendapati usianya lebih lama dari pada bumi, membuat adanya perasaan sedikit fantastis.

Saat ini terhadap masalah yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berani diakui ilmuwan, bila kita melepaskan bingkai-bingkai pemikiran yang sempit, menganalisa secara rasional akan menemukan banyak sekali fenomena yang sulit untuk dijelaskan namun sebenarnya sangat mudah dipahami.

Berdasarkan sejumlah besar bukti yang ditemukan ilmuwan sejak awal sudah bisa dipastikan bahwa bulan adalah ciptaan manusia, merupakan ciptaan manusia prasejarah, lalu mengapa tidak bisa mengambil kesimpulan terakhir? Sebab eksistensi manusia prasejarah, dapat dikatakan adalah merupakan pantangan ilmuwan, sebagian besar ilmuwan biar pun meneliti begitu banyak bukti dan teori yang tepat, namun saat menemui pandangan yang bertentangan dengan teori evolusi, maka siapa pun tidak berani mengemukakannya.

Padahal eksistensi manusia prasejarah yang memiliki peradaban yang sangat tinggi sudah ditunjukkan dalam penemuan-penemuan arkeologis belakangan ini. Sebagai contoh, penemuan tambang reaktor nuklir yang diperkirakan berusia 2 miliar tahun yang lalu di Republik Gabon, Afrika, yang lebih canggih dari pertambangan reaktor nulir zaman sekarang.

Semangat yang menuntut “kebenaran” seyogianya merupakan prinsip tertinggi dalam penelitian ilmuwan, apabila kita telah melompat keluar dari bingkai-bingkai pemikiran pendahulu, maka tidak sulit untuk membayangkan bahwa di antara sejumlah besar penelitian ilmiah, akan terdapat sebuah lompatan yang sangat cepat.

Minggu, 24 April 2011

GUNUNG API DI BALI



Gunung api aktif tersebar luas di Indonesia dikarenakan Indonesia adalah salah satu jalur atau zona subduksi. Zona subduksi adalah zona pertemuan antar lempeng (plate). Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng besar yang aktif, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Eurasia, nyaris semua wilayah Indonesia terus bergerak secara relatif satu sama lain, tergantung di atas lempeng mana dia berada. Hanya Pulau Kalimantan yang relatif stabil meski juga tidak 100 persen aman dari dampak pergerakan lempeng.
Penanda pertemuan dua lempeng, baik lempeng benua-benua, samudra-benua, atau lempeng samudra-samudra tampak jelas. Daerah pertemuan antarlempeng ini ditandai oleh keberadaan Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera, sesar Semangko di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, serta rangkaian gunung api yang berderet dari Sumatera bagian utara, membentuk busur di Jawa hingga ke timur Indonesia. Rangkaian gunung api yang membentang sepanjang 5.500 kilometer ini merupakan bagian dari cincin api atau ring of fire dunia. Akibat aktivitas geologi yang sedemikian tinggi, Indonesia memiliki 129 gunung api, 70 di antaranya adalah tipe A, tercatat pernah meletus dalam rentang sejarah sejak tahun 1600. Indonesia juga ”kaya” akan gempa. Karena dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan
Salah satu persebaran gunung api tersebut adalah di pulau Bali. Di Pulau Bali ada gunung api aktif diantaranya Gunung Batur dan Gunung Agung.
Gunung Batur memiliki ketinggian 1.717mdpl, gunung ini memiliki kaldera, puncaknya meletus meninggalkan dataran atau danau dengan puncak kecil ditengahnya. Kompleks Gn.Batur memiliki kaldera terbesar dan terindah di dunia. Gunung Batur masih aktif dan selalu mengeluarkan asap. Nama gunung ini sama dengan nama danau dan nama desa dikawasan tersebut.Magma yang dihasilkan bersifat basa dan batuan yang dihasilkan biasanya berupa batuan beku basa dan juga batuan beku intermediet.
Gunung api yang lain adalah gunung Agung. Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3.142 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang Kab.Karangasem - Bali.Gunung Agung adalah gunung berapi tipe strato, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang - kadang melepaskan asap dan uap air.
Puncak tertinggi berada di sebelah barat daya, yakni sebuah bukit berbatu yang tandus dari batu gunung berapi yang runcing. Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali dengan ketinggian 3,142 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan Rendang Kab.Karangasem - Bali. Gunung Agung adalah gunung berapi tipe strato, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan amat dalam yang kadang-kala mengeluarkan asap dan wap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, padahal puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.
Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan. Pagi hari udara masih bersih sehingga kita dapat memandang gunung-gunung lainnya di pulau Bali, menjelang siang badan dan puncak Gunung Agung diselimuti awan sepanjang hari.
Pendakian menuju puncak gunung ini dapat dimulai dari tiga jalur pendakian yaitu : 
-Dari selatan adalah dari selat lewat sangkan kuasa. 
-Dari tenggara ialah dari Budakeling lewat nangka 
-Dari Barat daya yang merupakan jalur pendakian yang umum digunakan oleh para pendaki yaitu dari Pura Besakih, panjang berpasir dan jalur sangat sempit dan memanjang.

Kamis, 21 April 2011

Geologi Struktur

BAB I
PENDAHULUAN
Tujuan
1.      Mengetahui cara penggambaran struktur bidang dan garis peta.
2.      Mengetahui gambaran tiga dimensi dari struktur di lapangan.

Alat dan Bahan
1.      Busur Derajat.
2.      Penggaris.
3.      Pensil Warna.
4.      Alat tulis lainnya.

Definisi Geologi Struktur
Geologi struktur adalah ilmu yang mempelajari perihal bentuk arsitektur / struktur kerak bumi beserta gejala – gejala geologi yang menyebabkan terjadinya perubahan – perubahan bentuk ( deformasi ) pada batuan.
Geologi Struktur pada intinya mempelajari struktur batuan , yaitu struktur primer ( missal perlapisan, foliasi, laminasi, dll ) dan struktur sekunder ( missal kekar, sesar, lipatan ). Bagian terbesar, terutama mempelajari struktur sekunder ini.



CARA KERJA

I.        Cara merubah system azimuth ke system kuadran
a.  Menentukan arah strike dari system azimuth ke system kuadran
 Contoh : Sistem azimuth    :  N … o E / …
                Sistem Kuadran   :  S … o W / …
S … o E / …
N … o E / …
N …o W / …
b. Merubah jurus / strike dari system azimuth ke system kuadran
 Contoh :   Sistem azimuth   : 325 o
Sistem kuadran   : 025 o
c.  Sedang besar Dip sama antara system azimuth dengan system kuadran, tetapi di      system kuadran arah Dip di beri notasi di akhir besar Dip.
Contoh : …. SE
… SW
… NE
… NW
d. Menulisnya secara benar dan lengkap.
 Contoh : S 025o E / 20o NE

II.     Cara merubah dari system kuadran ke system azimuth hampir sama tetapi arah strike selalu bernotasi N … E. Dan di akhiri angka Dip tidak di beri notasi.
- Menulis secara benar dan lengkap
Contoh : N 145o E / 30o


CARA KERJA

Cara menentukan kedudukan lapisan batuan serta penyebaran batuannya dengan kedudukan batuan.
  1. Menetukan umur lapisan batuan dan mengurutkannya dari yang tertua sampai lapisan yang termuda.
  2. Mengukur besar strike dan Dip kemudian menggambar simbolnya.
  3. Menggambar symbol lapisan batuan  di atas strike.
  4. Bila terdapat kontak lapisan batuan, maka di atas lambang  strike di gambar symbol / batuan yang berumur lebih tua dan di bawah lambing strike di gambar symbol batuan berumur lebih muda.
  5. Memberi warna sesuai symbol batuannya.
Batu lempung berwarna hijau, batu pasir berwarna kuning, dan batu gamping berwarna biru.




CARA KERJA


Menggambar kubus dan proyeksinya
  1. Membuat lingkaran yang memiliki jari – jari 8 cm dengan menggunakan jangka.
  2. Membagi lingkaran tersebut manjadi 3 bagian yang masing – masing memiliki besar sudut 120o.
  3. Menghubungkan titik – titik tersebut
  4. Membuat bangun kubus yang sama dengan contoh yang telah disediakan.
  5. Setelah terbentuk sebuah kubus, kemudian memproyeksikan bidang – bidang kubus tersebut ke arah samping, ke arah depan, ke arah atas dengan cara menarik 1 cm dari setiap rusuk – rusuknya.
  6. Memberi warna hasil proyeksi.
  7. Hasil gambar kubus tiga dimensi tersebut juga di gambar secara dua dimensi dengan cara membuka bidang -  bidang kubus tersebut.

KESIMPULAN


1.      Kita dapat menentukan arah strike dan dip dari kedudukan suatu batuan atau endapan.
2.      Kita dapat menentukan batas lithologi dengan menggunakan metode kontur struktur.
3.      Kita dapat menentukan sejarah geologi dari suatu endapan.



BAB II
METODE GRAFIS I  ( STRUKTUR BIDANG )

Tujuan
  1. Dapat menggambarkan geometri struktur bidang ke dalam proyeksi dua dimensi ( secara grafis )
  2. Menetukan kedudukan bidang dari dua atau lebih kemiringan semu.
  3. Menentukan kedudukan bidang berdasarkan problema tiga titik.

Alat dan Bahan :
    1. Alat tulis Lengkap.
    2. Jangka, penggaris, busur derajat.

Definisi
Beberapa unsure struktur geologi secara geometri dapat dianggap sebagai struktur bidang. Struktur geologi tersebut diantaranya adalah bidang perlapisan, bidang kekar, bidang belahan, bidang foliasi dan sejenisnya.
  • Jurus / strike : arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal, dimana besarnya jurus / strike di ukur dari arah utara.
  • Kemiringan / Dip : Sudut kemiringan terbesar yang di bentuk oleh bidang miring yang bersangkutan dengan bidang horizontal dan diukur tegak lurus terhadap jurus / strike.
  • Kemiringan Semu / Apprent Dip : sudut kemiringan suatu bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal dari pengukuran dengan arak tidak tegak lurus jurus / strike.
·        Arah kemiringan / Dip direction : Arah tegak lurus yang sesuai dengan arah miringnya bidang yang bersangkutan da diukur dari arah utara.



  
Langkah Kerja 02.1:
1.      Menetukan arah utara.
2.      Menetukan  posisi arah N 270o E / 30o  dan buat sudut 30o dari 270o ke arah bawah, kemudian tarik garis.
3.      Menetukan Posisi arah  N 285o E /  40o dan buat sudut 40o dari 285o ke arah atas, kemudian tarik garis.
4.      Menarik garis tegak lurus terhadap strike ( 270o dan 285o ) pada masing – masing posisi dengan jarak 1 cm sebanyak lima titik terhadap Dip.
5.      Menarik garis kontur struktur ( KS ) dengan menghubungkan titik – titik yang berbeda pada kedua strike, misal titik 1 cm dengan 1 cm, dan seterusnya.
6.      Untuk mendapatkan strike maka terlebih dahulu titik di utarakan sehingga di peroleh strike yang di bentuk oleh sudut.
7.      Untuk mendapatkan Dip, maka langkah – langkah yang harus dilakukan sebagai berikut :
a.       Buatlah garis tegak lurus terhadap KS 900.
b.      Buatl titk 1 cm di KS 800 ( kanan kiri 1 cm ) dari penarikan garis pada KS 900.
c.       Tariklah garis dari titik pertama garis di KS 900 ke titik 1 cm yang telah di buat tai di KS 800, sehingga diperoleh garis dan ini yang di sebut Dip.



Langkah Kerja 02.2 :
1.      Menetukan arah utara, dengan garis lurus.
  1. Menetukan sudut 120o , kemudian tarik garis sepanjang 1 cm.
  2. Buat garis lagi sebesar sudut 200o dari titik sebelumnya sepanjang 2 cm.
  3. Dari titik utara sudut 120o tarik garis ke garis terakhir dari sudut 200o kemudian garis tersebut di bagi dua yang sama besar.
  4. Setelah di bagi dua, Buatlah garis dari titik tengah garis tersebut dengan perpotongan antara sudut yang pertama dengan yang kedua, serta buat garis yang sejajar dengan garis tersebut ke atas dan kebawah.
  5. Membuat kotak bujur sangkar berukuran 6 cm ( pada langkah no 5 ).
  6. Buatlah kubus dengan sisi 6 cm dari lingkaran, kemudian dari tiap rusuk kubus tersebut bagilah tiap 1 cm, lalu hubungkan titik – titik tersebut.
  7. Pada penggambarannya blok diagram orthogonalnya seperti di buat kubus bersisi 6 cm dengan sudut 60 o  , kemudian di sesuaikan dengan KS tertinggi dan terendah lalu KS yang mempunyai ketinggian yang sama di hubung – hubungkan. Penggambaran di kotak bujur sangkar di proyeksikan pada kubus dengan cara di plot titik KS dari tiap garis yang memotong garis bujur sangkar lalu  di sesuaikan pada garis kubus. Kemudian titik KS di  letakkan pada kubus sesuai titik – titik masing – masing. Setelah semua sudah di pindahkan, lalu hubungkanlah antar titik tersebut maka terbentuklah struktur bidang.     


KESIMPULAN


1.  Kedudukan pada struktur bidang dilambangkan dengan strike dan Dip.
2. Strike adalah arah dari garis horizontal yang merupakan perpotongan antara bidang yang bersangkutan dengan bidang horizontal yang diukur dari arah utara.
3. Dip adalah sudut terbesar yang dibentuk oleh bidang miring dengan bidang horizontal yang diukur tegak lurus jurus.

 
BAB III
METODE GRAFIS II ( STRUKTUR GARIS )

Tujuan :
1.      Dapat menggambar geometri struktur garis ke dalam dua dimensi ( secara grafis ).
2.      Menentukan Plunge dan Rake suatu garis pada suatu bidang.
3.      Menetukan kedudukan struktur garis dari perpotongan dua bidang.

Alat dan bahan :
a.       Penggaris, busur derajat.
b.      Jangka dan alat tulis.

Definisi
Salah satu unsur struktur secara geometri adalah geometri garis (struktur garis : gores, garis, perpotongan dua bidang, dan lainnya ).
Dalam gologi struktur dapat dibedakan menjadi “struktur garis riil” dan “struktur garis semu”. Yang di maksud dengan struktur garis riil adalah struktur garis yang arah dan kedudukannya dapat diamati langsung di lapangan, seperti contohnya gores garis yang terdapat pada bidan sesar. Sedangkan struktur garis semu adalah semua struktur garis yang arah atau kedudukannya ditafsirkan dari orientasi unsur – unsur struktur yang membentuk kelurusan atau liniasi. Misalnya : liniasi fragmen breksi sesar, liniasi mineral – mineral dalam batuan beku, arah liniasi struktur sedimen (cross bedding, flute cast) dan sebagainya.
Berdasarkan saat pembentukannya, struktur garis dapat dibedakan menjadi “struktur garis primer” yang meliputi : liniasi atau penjajaran mineral – mineral pada batuan beku tertentu, dan arah liniasi struktur sedimen; serta struktur garis sekunder yang meliputi : gores garis, liniasi memanjang fragmen breksi sesar, garis poros lipatan dan kelurusan – kelurusan dari topografi, sungai dan sebagainya.
Kedudukan struktur garis dinyatakan dengan istilah – istilah : “arah penunjaman” (trend), “penunjaman” (plunge), “arah kelurusan” (bearing) dan Rake atau Pitch.



Definisi  istilah - istilah dalam struktur garis :
Arah penunjaman (trend):
Jurus dari bidang vertical yang melalui garis dan menunjukkn arah penunjaman garis tersebut, dimana hanya menunjukkan satu arah tertentu. 
Arah kelurusan (bearing) :
Jurus dari bidang vertical yang melalui garis tetapi tidak menunjukkan arah penunjaman garis tersebut, dimana menunjukkan arah – arah dimana salah satu arahnya merupakan sudut pelurusannya.
Rake (Pitch) :
Besar sudut antara garis dengan garis horizontal yang di ukur pada bidang dimana garis tersebut terdapat. Besarnya rake sama dengan lebih kecil sembilan puluh derajat.

 

Langkah kerja 03.1.

1.      Menetukan arah utara.
2.      Diukur bidang sesar dengan kedudukan N 005o E / 45o dari arah utara, untuk buka Dip buat Fl yang tegak lurus sesar kemudian cari sudut 45o dan tarik garis. Inilah besar Dip.
3.      Buat garis sejajar sesar dengan penarikan setiap kenaikan 1 cm dari Fl dan sudut dip, sebanyak tiga garis.
4.      Buat bearing N 135o E, dari arah sesar
5.      Pakai jangka di 45o ke titik ks 2 diatas di hubungkan ke Fl, dengan garis putus – putus.
6.      Titik perpotongan hangka tadi dengan Fl tarik garis sejajar Ks atau sesar dengan garis putus – putus.
7.      Dari garis putus – putus sejajar ks tadi di tarik garis tegak lurus yang di hubungkan dengan perpotongan bearing dan ks, kemudian tarik garis. Besar rake diukur dari bidang sesar sampai garis yang dibuat ini.
8.      Untuk menentukan plunge, tariklah garis sepanjang 1 cm dari titik perpotongan ks 2 dengan bearing dan tegak lurus bearing kemudian tarik garis, dari sini kita dapat menetukan besar plunge. 
 

Langkah kerja 03.2.

1.      Menetukan garis utara.
2.      Buat garis dengan arah N 048o E / 30o NW ( N 228o E / 30o ) pada ketinggian 800 mdpl, kemudian membuat Fl  yang sejajar dengan garis strike  dan cari dip sebesar 30o .
3.      Tariklah garis dai setiap kenaikan 1 cm dari dua garis yaitu Fl dan dip sebanyak tiga garis kemudian diberi nitasi ketinggiannya.
4.      Dari strike tersebut dibuat garis dengan Azimuth N 130o E (dari arah utara), dengan panjang garis 7 cm, dan buat Fl dan tentukan Dip sebesar 50o   kemudian hubungkanlah titig ketinggian 800 mdpl pertama dengan yang kedua ini.
5.      Dari FL dan garis dip tadi, buatlah garis yang sejajar strike kedua ini dengan penarikan garis setiap kenaikan 1 cm dari Fl dan garis dip sebanyak 3 garis.
6.      Garis Ks yang pertama dengan Ks yang kedua ini cari perpotongannya, lalu dihubungkan dengan garis dan inilah yang dinamakan dengan bearing.
7.      Buat garis putus – putus dari strike pertama, dari titik dip 30o tarik garis putus – putus dengan jangka pada Ks 700 sehingga memotong Fl, lalu tarik garis putus – putus sejajar Ks.
8.      Begitu juga dengan strike yang kedua, dari titik dip 50o  tarik garis putus – putus dengan jangka pada Ks 700 sehingga memotong Fl, lalu tarik garis putus – putus sejajar Ks.
9.      Rake A diperoleh dari penarikan garis tegak lurus garis putus – putus yang di buat pada dip 30o  dan dihubungkan dengan bearing yang perpotongan ks 700 lalu tarik garis sehingga besar Rake A dapat di baca dari  sudut antara  Ks 700 dengan penarikan garis ini tadi.
10.  Rake B diperoleh dari penarikan garis tegak lurus garis putus – putus yang di buat pada dip 50o   dan dihubungkan dengan bearing yang perpotongan Ks 700 lalu tarik garis sehingga Rake B dapat dibaca dari sudut antara Ks 700 dengan penarikan garis ini tadi.
11.  Untuk mencari besarnya plunge, buat garis sepanjang 1 cm tegak lurus dengan bearing Ks 700 dan tarik garis, besar plunge dapat di baca dari garis bearing dengan penarikan garis ini tadi.


KESIMPULAN

1.      Dari perpotongan dua bidang dapat di tentukan unsur – unsur struktur garis dengan menggunakan proyeksi garis.
2.      Hasil perpotongan dua bidang dapat dibuat kedudukan struktur garis dalam kenampakan 3 dimensi.
3.      Dengan aplikasi metode grafis I untuk struktur garis, dapat memecahkan masalah – masalah struktur garis dalam penetuan plunge dan rake sebuah garis pada suatu bidang. 

KESIMPULAN


1.Dalam pembacaan struktur garis terdapat istilah plunge, bearing
Rake yang menunjukkan besar sudut antara garis horizontal yang diukur pada   bidang dimana garis tersbut didapat.
2. Berdasarkan pada pembentukannya struktur garis dibagi menjadi :
      a. Struktur garis primer
      b. Struktur garis sekunder.


BAB IV

POLA SINGKAPAN DAN PETA GEOLOGI


Definisi
            Permukaan bumi merupakan salah satu bagian yang harus dipelajari dalam penguasaan ilmu geologi, karena ekspresi topografi terkadang dapat menunjukkan keadaan geologi baik struktur maupun geologinya.
            Geomorfologi sangat terkait dalam mempelajari geologi struktur. Bentukan – bentukan morfologi sekarang merupakan hasil gaya yang bekerja baik itu berasal dari dalam maupun dari luar bumi. Bentukan – bentukan tersebut akan berbeda bentuknya tergantung dari system yang mempengaruhinya.
            Pada sisi lain lithologi juga berperan dalam mengekpresikan topografi. Nilai resisten dan tidaknya lithologi akan memberikan relief yang berbeda – beda di permukaan. Lithologi yang keras (resisten) cenderung menbentuk relief yang lebih menonjol (tinggi) daripada daerah dengan lithologi yang lebih lunak (kurang resisten). Sedangkan daerah yang disusun oleh lithologi batu gamping akan membentuk suatu pola bentang alam  “karst topograhpy”   sebagai pola yang sangat khas (tersendiri).
                        Bentukan yang berlainan dari kedudukan lithologi dan bentuk morfologi, mengakibatkan terbentuknya pola penyebaran lithologi dipermukaan. Perpotongan antara bidang lithologi dan bidang permukaan bumi inilah yang dinamakan sebagai pola singkapan. Dari pola singkapan ttersebut akan diketahui keadaan geologi suatu daerah dan dapat dinuat suatu peta yang menggambarkan keadaan geologi meliputi penyebaran lithologi, struktur dan morfologi. Peta semacam nin disebut dengan Peta Geologi.

Besar dan bentuk dari pola singkapan ini tergantung dari beberapa factor :
  1. Ketebalan lapisan.
  2. Kemiringan lapisan.
  3. Bentuk morfologi
  4. Bentuk struktur lapisan.

Hukum “V”

Hubungan antara lapisan yang mempunyai kemiringan dengan bentuk topografi berelief akan menghasilkan pola singkapan yang beraturan, dimana aturan tersebut dikenal dengan  hukum “V”.
Aturan – aturan tersebut antara lain :
a.       Lapisan horizontal akan membentuk pola singkapan yang mengikutimp pola  garis kontur.
b.      Lapisan dengan kemiringan berlawanan arah dengan kemiringan lereng, maka kenampakan lapisan akan memotong lembah dengan pola singkapan membentuk huruf “V” yang berlawanan arah dengan kemiringan lembah.
c.       Pada lapisan tegak akan membentuk pola singkapan berupa garis lurus, dimana pola singkapan ini tidak dipengaruhi oleh keadaan topografi.
d.      Lapisan dengan kemiringan yang searah dengan arah kemiringan lereng dimana kemiringan lapisan lebih besar dengan kemiringan lereng, akan membentuk pola singkapan dengan huruf “V” searah dengan kemiringan lereng.
e.       Lapisan dengan kemiringannya searah dengan kemiringan lembah dan besarnya kemiringa lapisan sama dengan kemiringan lereng /lembah, maka pola singkapanya seperti huruf V terbalik.
f.        Lapisan dengan kemiringan yang searah dengan kemiringan lereng, dimana besar kemiringan lapisan lebih kecil dari kemiringa lereng, maka pola singakpannya akan membentuk huruf V yang berlawanan dengan arah kemiringan lereng/ Lembah.


KESIMPULAN

   1. Untuk dapat mengetah0i tebal lapisan dan kedalaman dapat menggunakan cara    grafis dan cara matematis.
      2. Untuk mengetahui dengan cara grafis, harus diketahui top dan bottom.
      3. Dalam pengukuran tebal dan kedalaman dapat juga menggunakan tipe point.



BAB IX

LIPATAN


Lipatan merupakan hasil perubahan bentuk dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan atau pola dari lengkungan pola unsure garis atau bidang di dalam bahan tersebut. Pada umumnya unsure yang terlibat di dalam lipatan adalah perlipatan, foliasi, dan liniasi.

Berdasarkan proses perlipatan dan jenis batuan yang terlipat dibedakan menjadi :
1.      Flexture / Competent folding termasuk di dalam parallel fold.
2.      Flow / incompetent folding termasuk di dalam similar fold.
3.      Shear folding.
4.      Flexture and flow folding.

Jenis – jenis Lipatan :
·        Antiklin, struktur lipatan yang bentuk konfet ke atas dengan urusan lapisan batuan yang tua di bawah dan yang muda di atas.
·        Sinklin, struktur lipatan yang bentuk klaf ke atas dengan urutan lapisan batuan yang tua di bawah dan yang muda di atas.
·        Antiform, struktur lipatan seperti antiklin namun umur batuan tidak di ketahui.
·        Sinform, struktur lipatan seperti sinklin namun unsure batuan tidak diketahui.
·        Antiformal Sinklin, struktur lipatan seperti antiklin dengan lapisan batuan yang tua di bagian atas dan batuan muda yang berada di bawah.
·        Sinformal antiklin, struktur lipatan sepeti sinklin dengan lapisan batuan yang tua di gaian atas dan lapisan batuan yang muda di bawah.
·        Dome, yaitu suatu jenis tertentu antuform dimana lapisan batuan mempunyai kemiringan ke segala arah uyang menyebar dari satu titik.
·        Basin adalah suatau jenis unik sinform dimana kemiringan lapisan batuan menuju ke satu titik.


KESIMPULAN

·        Lipatan mempunyai hasil perubahan bentuk dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai kelengkungan atau kumpulan unsure garis pada bidang di dalam bahan tersebut.
·        Pada umunya unsure yang terlihat dalam lipatan adalah bidang perlipatan, foliasi dan liniasi.
·        Unsur – unsure lipatan : antiklin, sinklin, antiform, sinform, hinge, grest, plunge.



BAB IV

TEBAL DAN KEDALAMAN


Ketebalan

Ketebalan lapisan bisa ditentukan dengan beberapa cara, baik secara langsung maupun tidak langsung.
            Apabila keadaan medan, struktur yang rumit atau keterbatasan alat yang dipakai tidak tidak memungkinkan pengukuran secara langsung, diadakan pengukuran secara langsung.
            Pengukuran tidak langsung yang sederhana adalah pada lapisan miring, tersingkap pada lapisan horizontal, dimana lebar lapisan diukur tegak lurus jurus, yaitu w. Dengan mengetahui kemiringan lapisan (d) maka ketebalan T = w sin d.
            Apabila pengukuran lapisan tidak tegak lurus  ( i ) maka lebar sebenarnya harus dikoreksi terlebih dahulu w = i sin b. Dimana b adalah sudut antara jurus dengan arah pengukuran. Ketebalan yang didapat adalah T = i sin b sin a panjang.
            Untuk mengukur ketebalan pada lereng, apabila pengukuran tidak lurus jurus igunakan persamaan trigonometri.
            Untuk mengukur / mencari kemiringan lereng yang tegak lurus jurus Lapisan (w) dapat dilakukan beberapa cara natara lain :
  1. Dengan “Aligment Nomogrsph” dengan menganggap kemiringan lereng terukur sebagai kemiringan sebenarnya.
  2. Dengan persamaan Tg s = sin b sin j.
Dari pengukuran diatas di dapatkan lebar singkapan yang tegak lurus jurus (w), dengan menggunakan persamaan :
W = i sin j.

Kedalaman

Menghitung kedalamn lapisan ada beberapa cara, antara lain :
  1. Menghitung secara matematis.
  2. Dengan “Aligment diagram”
  3. Secara grafis.
Dengan cara perhitungan matematis, yang perlu diperhatikan ialah kemiringan lapisan dan jarak jurus dari singkapan ke titik tertentu.
Pada permukaan horizontal kedalaman lapisan (d) dapat dihitung dengan rumus :

D = m tg d

Apabila tidak tegak lurus jurus pada bidang – bidang maka kemiringan lapisan ang dipakai adalah kemiringan semu  (a).
d = m tg a.
Untuk kemiringan lereng tertentu kedalaman dapat dicari dengan menggunakan rumus umumnya yaitu
D = m (sin s ± cos s tg d). 
Dengan menggunakan “Aligment diagram” cara penggunaan sama dengan waktu mencari kedalaman dan yang beda hanya “Aligmeny diagram”

KESIMPULAN 

   1. Untuk dapat mengetahui tebal lapisan dan kedalaman dapat menggunakan cara    grafis dan cara matematis.
      2. Untuk mengetahui dengan cara grafis, harus diketahui top dan bottom.
      3. Dalam pengukuran tebal dan kedalaman dapat juga menggunakan tipe point.



BAB VI
PROYEKSI STEREOGRAFIS DAN PROYEKSI KUTUB



Definisi
    Merupakan proyeksi yang didasarkan pada perpotongan bidang / garis dengan permukaan bola.
  Unsur struktur geologi akan lebih nyata, lebih mudah dan cepat penyelesaianya cepat bila digambarkan dalam bentuk proyeksi permukaan bola. Permukaan bola tersebut meliputi suatu bidang dengan pusat bola yang terlihat pada bidang tersebut. Maka bidang tersebut memotong permukaan bola sepanjang suatu lingkaran, yaitu lingkaran besar. Yang dipakai sebagai gambaran posisi struktur dibawah permukaan adalah belahan bola bagian bawah. Selamjutnya proyeksi permukaan bola digambarkan pada permukaan bidang horizontal dalam bentuk proyeksi stereografis.
Macam - macam proyeksi stereografis :
  1. Equal angle projection net atau Wulf net.
  2. Equal area projection net atau schmit net.
  3. Orthographic net.

Struktur bidang

Stereogranya selalu diwakili oleh lingkaran besar, sehingga besar sudut kemiringan selalu diukur pada arah E – W jarring, yaitu 0o pada lingkaran primitif dan 90o di pusat lingkaran.

Struktur garis

Stereogramnya akan berupa suatu garis lurus dari pusat lingkaran, besarnya plunge dihitung 0o pada lingkaran primitif dan 90o di pusat lingkaran. Dan diukur pada kedudukan bearing berimpit dengan N – S atau E – W jarring.
           

KESIMPULAN


  1. Proyeksi stereografis adalah gambaran dua dimensi atau proyeksi dari permukaan bola.
  2. Proyeksi hanya dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah geometri bidang dan garis yang besar merupakan besar sudut atau arah.
  3. Stereonet terdiri dari : Wulff Net, Schmidt Net, Polar Equal Area Net dan Classbeek Counting Net.
  4. Pada proyeksi stereografis dengan menggunakan Wulff Net yang menghasilkan bidang dan garis.
  5. Pada proyeksi kutub dengan menggunakan Polar Equal Area net yang menghasilkan berupa “pola 2 atau titik.